Taaruf Online, Apakah Boleh?


Home » ARTIKEL PRA-NIKAH » Taaruf Online, Apakah Boleh?

Taaruf online itu bagaimana sih? Yuk kita bahas..

Teknologi informasi yang berkembang pesat memang memudahkan manusia dalam berinteraksi dengan sesama. Baik dengan teman, saudara, rekan kerja, atau keluarga. Tidak terkecuali untuk berinteraksi dengan orang yang disebut dengan kekasih.

Jodoh menjadi hal yang sangat menarik untuk dibahas. Tentu saja, semua orang ingin mendapatkan jodoh yang terbaik untuk menemani hidupnya. Banyak cara yang ditempuh agar bisa mendapatkan jodoh yang diinginkan. Mulai dari cara biasa sampai yang tidak biasa sekalipun.

Belakangan ini, marak terdengar biro jodoh online. Bahkan, beberapa diantaranya mengklaim sebagai portal taaruf online. Dengan situs taaruf online tersebut, semua pengguna internet bisa menemukan tambatan hari dengan cara bertukar foto, informasi, chatting, dan aktivitas lainnya.

Mencari tambatan hari melalui situs online memang tampaknya mudah. Sayangnya, kemudahan tersebut juga bisa memudahkan tindak kejahatan. Bahkan, tidak jarang yang terjadi justru tertipu oleh pemalsuan informasi atau identitas dari lawan jenis. Tentu, ini menjadi hal yang tidak diinginkan.

Sebagai contoh, seorang wanita sudah yakin dan memiliki niat yang murni untuk menikah. Namun, ternyata pihak pria hanya ingin main-main saja dengan kedustaannya. Begitu pula dengan sebaliknya. Tidak jarang ada yang berujung dengan kriminalitas.

Lantas, bagaimana Islam memandang taaruf online yang sekarang ini sedang marak terjadi? Tentu saja, Islam telah memiliki jawaban dan solusi terkait fenomena taaruf online tersebut. Allah Subhanallahu Wa Ta’ala berfirman dalam QS. Al Baqarah 2:216.

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”  

Ayat tersebut memiliki makna bahwa manusia bisa saja menganggap bahwa sesuatu itu baik untuknya, namun Allah SWT yang Maha Mengetahui segala hal tentang umat-Nya. Jadi, apa yang menurut kita baik, belum tentu hal tersebut benar-benar baik bagi Allah. Begitu juga sebaliknya.

Seseorang bisa saja menceritakan hal-hal terkait dirinya melalui sosial media. Baik tentang perilaku, agama, akhlak, harta, hingga keturunannya. Semua yang dijelaskan memiliki kualitas yang baik. Sayangnya, pada kenyataannya mungkin tidak akan sebaik itu.

Bisa jadi, apa yang diceritakan lewat sosial media hanya kebohongan belaka yang dilakukan demi menarik lawan jenis. Tentu saja, Anda tidak boleh mempercayainya begitu saja. Kebohongan seperti ini tentu bisa merugikan Anda pada kemudian hari. 

Untuk itulah, sangat penting melakukan proses taaruf dengan cara yang baik. Saat memiliki niat baik untuk lebih mengenal seseorang yang diharapkan menjadi pendampingnya, maka gunakan tata cara taaruf yang baik. Kenali orang tersebut secara langsung dan harus menyertakan mahram sebagai penengah proses taaruf tersebut. Allah berfirman dalam QS An-Nuur Ayat 21.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barang siapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar.” [An-Nuur : 21]

Perlu diketahui bahwa godaan setan bisa berasal dari berbagai jalan. Jika dikaitkan dengan fenomena taaruf online, maka sosial media bisa saja menjadi ladang godaan setan. Pasalnya, sosial media cenderung lebih bebas dan terbuka.

Meski hanya sekedar chatting atau berbalas pesan dengan lawan jenis lewat sosial media, namun hal ini tetap bisa menimbulkan hawa nafsu atau syahwat. Pada akhirnya, hal ini bisa berpotensi munculnya perbuatan zina. Sebagaimana hadist yang diriwayatkan oleh HR Muslim berikut.

كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنْ الزِّنَا مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَاْلأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ

“Ditetapkan atas anak cucu Adam bagiannya dari zina akan diperoleh hal itu tidak mustahil. Kedua mata zinanya adalah memandang (yang haram). Kedua telinga zinanya adalah mendengarkan (yang haram). Lisan zinanya adalah berbicara (yang haram). Tangan zinanya adalah memegang (yang haram). Kaki zinanya adalah melangkah (kepada yang diharamkan). Sementara hati berkeinginan dan berangan-angan, sedang kemaluan yang membenarkan semua itu atau mendustakannya.” (HR. Muslim No. 2657)

Al-Qur’an juga menjelaskan bahwa zina merupakan perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT dan merupakan perbuatan dosa besar. Larangan ini terdapat dalam QS. Al Isra’ Ayat 32 dan QS. Al-Furqan Ayat 68-69 berikut.

وَلا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلا

 “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Isra’: 32)

وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ يَلْقَ أَثَامًا يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا

“Dan orang-orang yang tidak menyembah ilah yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina”. (QS. Al-Furqân/25: 68-69)

Berdasarkan ayat tersebut, maka sudah tentu bahwa zina adalah perbuatan yang dilarang. Mendekati zina saja tidak diperbolehkan, apalagi melakukannya. Maka dari itu, sebaiknya kita tidak mendekati hal-hal yang bisa menjerumus ke perbuatan zina, termasuk chat dengan lawan jenis.

Jika Anda berniat untuk taaruf sebagai ikhtiar untuk mendapatkan jodoh terbaik, maka pilihlah jalan yang sesuai dengan syariat Islam. Jangan sampai terlena dengan kemudahan dunia maya yang justru bisa mendatangkan keburukan.

Taaruf yang baik adalah dengan langsung mendatangi rumah pihak wanita yang ingin dijadikan sebagai pendamping. Sampaikan niat baik Anda untuk bertaaruf dan keinginan meminang wanita tersebut. Dengan melalui cara yang sesuai syariat, maka diharapkan nantinya bisa membangun keluarga yang mendapatkan keberkahan dan bahagia.

Baca Juga: Tahapan Taaruf yang Benar!

Proses Taaruf Online

Selama menjalankan proses taaruf, baik pihak pria maupun wanita harus tetap memperhatikan adab. Tujuannya adalah supaya proses saling mengenal antara pihak pria dan wanita bisa sesuai dengan syariat Islam. Berikut beberapa adab yang harus diperhatikan selama proses taaruf.

  • Saling Menjaga Pandangan

Pada saat melangsungkan proses taaruf, hal yang wajib selalu diperhatikan yaitu bagaimana cara menjaga pandangan kepada calon pasangan. Meskipun melihat calon pasangan memang diperbolehkan, namun tidak boleh berlebihan karena dilakukan hanya untuk memastikan kecocokan.

Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nur Ayat 30-31 yang artinya:

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’ Katakanlah kepada wanita yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya …”

Berdasarkan ayat tersebut, maka jelas bahwa Allah SWT memberikan perintah kepada kaum laki-laki maupun perempuan untuk menahan pandangan. Termasuk dalam proses taaruf untuk mengenal calon pasangan.

  • Menutup Aurat

Saat bertemu dan berbincang dengan pihak pria, pihak wanita harus mampu menutup auratnya dengan baik. Pasalnya, menutup aurat bagi wanita adalah wajib hukumnya. Termasuk menutup aurat selama proses taaruf dengan seorang pria. 

Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam QS An-Nur ayat 31 yang artinya:

… Dan janganlah mereka (wanita-wanita mukmin) menampilkan perhiasannya kecuali yang (biasa) nampak dari pandangan dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya ….”

  • Tenang dan Sopan dalam Bertutur Kata

Saat melakukan pertemuan bersama calon pasangan, baik pihak laki-laki maupun pihak perempuan harus selalu menjaga sopan santun. Dalam bertutur kata, hendaknya dilakukan secara tenang, sopan, dan menunjukkan keseriusan. 

Perintah Allah SWT kepada umatnya untuk bertutur kata yang baik terdapat dalam QS. Al-Adzab Ayat 32 yang artinya:

… Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.”

  • Hindari Hal-Hal yang Tidak Perlu Dibicarakan

Selama bertemu dengan calon pasangan, sebaiknya bicarakan hal-hal yang penting saja. Dalam hal taaruf online, hendaknya membicarakan hal-hal yang diperlukan untuk pernikahan saja. Hindari membicarakan hal-hal yang tidak penting atau tidak perlu untuk dibicarakan.

Perintah untuk menjauhkan diri dari perkataan yang tidak berguna telah Allah SWT sampaikan dalam firman-Nya yang terdapat dalam QS. Al-Mukminun ayat 1-3 yang artinya:

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna…”

  • Didampingi Wali atau Keluarga

Pertemuan antara akhwat dan ikhwan selama proses taaruf tidak boleh dilakukan hanya berduaan saja. Selama proses taaruf, kedua pihak harus didampingi oleh wali atau keluarga untuk menemani pertemuan tersebut.

Tujuannya adalah untuk menghindari fitnah yang dapat terjadi ketika seorang pria dan wanita berduaan. Hal ini sesuai dengan ajaran Islam yang melarang pria dan wanita berdua-duaan dengan yang bukan mahram. Bahkan, hukumnya adalah haram.

Maka dari itu, jika ingin mengadakan pertemuan selama proses taaruf, sebaiknya minta kepada orang tua atau wali yang dipercaya sebagai penengah dalam pertemuan tersebut. Hal ini penting untuk tetap menjaga batasan antara pria dan wanita sebelum sah menjadi seorang suami istri.

  • Selalu Mengingat Allah

Mengingat Allah dalam setiap waktu akan membuat hati terasa lebih tenang dan terjaga. Termasuk pada saat melakukan proses taaruf. Dengan selalu ingat Allah SWT, maka selama bertaaruf akan bisa menjaga diri dari godaan syaitan yang muncul dan sewaktu-waktu bisa mengganggu manusia.

Dengan mengingat Allah pula, Anda bisa semakin meluruskan niat bahwa proses taaruf online ini dilakukan untuk mendapatkan jodoh terbaik. Pasalnya, pasangan Anda nantinya adalah orang yang akan menemani ibadah seumur hidup. Maka dari itu, sangat penting untuk menjemput jodoh sesuai dengan syariat Islam.